Om Swastyastu, Kali ini saya akan berbagi koleksi hasil jalan-jalan religi saya ke-3 pura yang bisa dibilang cukup besar yang ada di daerah Kab.Klungkung dan Gianyar. semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan Comment kalian Guys... Suksma...
Pura Agung Kentel Gumi


Beberapa Pelinggih Yang Ada di Pura Kentel Gumi
Meru Tumpang Solas (11) : Sebagai Tempat Berstananya Sang Hyang Reka Bhuwana
Meru Tumpang Siya (9) : Sebagai sarana pengayatan ke Gunung Agung
Meru Tumpang Pitu(7) : Sebagai Simbol Manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa Bharuna
Meru Tumpang Lima (5) : Sebagai pengayatan ke Ulun Danu.
Meru Tumpang Tiga (3) : Lambang perwujudan atau pengayatan ke gunung Lebah.
Meru Tumpang kalih (2) : Sebagai Lambang Jaba Dwipa
Pelinggihan Hyang Ibu : Tempat memuja ibu pertiwi.
Pura Dasar Bhuana Gel-Gel

Pura Dasar Bhuana terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Dari Denpasar, berjarak sekitar 42 kilometer. Pura ini berdiri di atas lahan yang cukup luas. Berdiri megah dan tampak asri di pinggir jalan utama Gelgel-Jumpai. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatikta (Kerajaan Majapahit) pada tahun Caka 1189 atau tahun 1267 Masehi. Pura ini merupakan salah satu Dang Kahyangan Jagat di Bali. Pada masa Kerajaan Majapahit, Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa pandita (guru suci). Pura Dang Kahyangan dikelompokkan berdasarkan sejarah. Di mana, pura yang dikenal sebagai tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali, dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat. Keberadaan Pura Dang Kahyangan tidak bisa dilepaskan dari ajaran Rsi Rena dalam agama Hindu. Selain sebagai Dang Kahyangan, pura yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kota Semarapura, Klungkung itu juga merupakan pusat panyungsungan catur warga yang berasal dari soroh/ klan di antaranya soroh/ klan Satria Dalem, Pasek (Maha Gotra Sanak Sapta Rsi), soroh Pande (Mahasamaya Warga Pande) dan klan Brahmana Siwa. Semuanya merupakan pengabih Ida Batara di Pura Dasar Bhuana Gelgel. Pura yang dibangun di atas areal cukup luas itu, juga menjadi panyungsungan Subak Gde Suwecapura. Di antaranya Subak Pegatepan, Kacang Dawa, Toya Ehe dan Toya Cawu. Panyungsungan dilakukan saat Karya Pedudusan Agung lan Pawintenan yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Sebagaimana sejarahnya, Pura Dasar Bhuana erat kaitannya dengan Mpu Ghana yang hidup pada akhir abad IX Masehi. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatika sebagai bentuk penghormatan terhadap Mpu Ghana. Empu Ghana merupakan seorang brahmana dengan peran sangat besar terhadap perkembangan agama Hindu di Bali. Empu Ghana adalah orang suci yang berasal dari Jawa. Tiba di Bali pada masa pemerintahan (suami-istri) Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni yang berkuasa dan memerintah Bali pada tahun Caka 910 sampai tahun Saka 933 (tahun 988-1011 Masehi). Empu Ghana merupakan brahmana penganut paham Ghanapatya. Seumur hidup menjalankan ajaran Sukla Brahmacari yakni tidak menjalani masa Grahasta (tidak menikah). Kaitannya setelah berdirinya Kerajaan Suwecapura, pura ini dipakai sebagai merajan keluarga raja saat itu. Letak pura ini persis berada di timur laut Keraton Suwecapura. Pada zaman itu, Keraton Suwecapura berdiri di Banjar Jero Agung, Gelgel.Beberapa Pelinggih Yang Ada di Pura Dasar Bhuana Gel-gel
Pelinggih tempat berstananya Ratu Pasek
Pelinggih gunung batur : sebagai pengayatan ke gunung batu
Pelinggih Ulun danu sebagai pengayatan ke danau beratan
Pelinggih Anglurah Agung
Pelinggih sebagai pengayatan ke pura Kentel gumi/ pesimpangan Batara ring Kentel Gumi
Pelinggihan Betara Dasar Dalem Gel-Gel
Pelinggihan antuk linggih betara Mas Pait
Linggih Betara Penyarikan Kunta Raos
Pelinggihan Ratu Pande
Bale Pesamuan Alit
Bale Pesamuan Madya
Bale Pesamuan Agung
Linggih Betara Sila Majemuh
Pelinggihan Sapta Petala : Pemujaan Hyang Widhi sebagai penguasa inti bumi
Sejarah Pura Mengening

Pura Mangening berada di Desa Saraseda, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pura Mangening berada di lingkungan yang hening dan berhawa sejuk. Waktu yang diperlukan apabila anda ingin mengunjungi Pura Mengening ini adalah sekitar 90 menit dengan jarak tempuh kira-kira 37 km dari Kota Denpasar Bali. Dimana Pura ini termasuk ke dalam salah satu cagar budaya yang diresmikan oleh Pemerintah Propinsi Bali berdasarkan UU No.05/1985. keberadaan Pura Mengening ini sudah ada sejak Raja Masula-Masuli memerintah di Pejeng. Raja Masula-Masuli ini sendiri mempunyai kisah tersendiri hingga sampai di Pejeng. Masula-Masuli sebelaumnya bernama I Sula dan I Suli. Keduanya ini adalah pasangan laki dan perempuan yang lahir dari troktokan nyuh gading di kawasan Besakih. I Sula dan I Suli kemudian diajak oleh I Sangkul Putih. Keberadaan I Sula dan I Suli ini membuat semua dewa-fewi turun kabeh untuk menyaksikan kedua anak tersebut. Bahkan, Dewi Bhyahpara dan Dewi Danu akhirnya meminta kepada Batara Jagatnatha agar Dukuh Sangkul Putih membawa I Sula dan I Suli ke Pejeng. Sampai di Pejeng oleh Sinuhun dibuatkan sebuah gelar Masula-Masuli. Nama ini diberikan berkaitan dengan kelahiran beliau yang lahir buncing (kembar). Pada masa pemerintahan Raja Masula-Masuli ini sendiri Pura Mengening ini hanya dilakukan beberapa perbaikan saja. Dengan menunjuk seorang arsitektur yang memang mengetahui konsep pura dan bangunan dengan konsep Hindu sebagaimana dianjurkan oleh Bhagawan Wiswa Karma. Raja Masula-Masuli menunjuk Empu Kuturan untuk melakukan perbaikan terhadap beberapa bangunan yang ada di Pura Mengening. Selain itu dalam pemerintahan Raja Masula-Masuli ditegaskan kembali nama yang berstana di pelinggih Prasada Agung ini dengan sebutan Ida Batara Hyang Maha Suci Nirmala.Pelinggih Yang Ada di Pura Mengening
Pelinggih Ratu Pengurah Agung
Pelinggih Bhatara Gunung Kawi
Pelinggih Bhatara Siwa
Pelinggih Bhatara Tirta Empul
Pelinggih gedong sineb
Pelinggih Gedong Limas
Pelinggih Gedong Catu
No comments:
Post a Comment