Tuesday, October 25, 2016

Omed-Omedan, Tradisi Unik Desa Sesetan



Om Swastyastu, Kali ini saya akan berbagi koleksi tradisi masyarakat Desa Sesetan, Denpasar Selatan yaitu Omed-Omedan. Untuk yang sudah tahu, pasti senyum-senyum sendiri.  Oke,,,Semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan Comment kalian Guys... Suksma...



Omed-Omedan ini adalah tradisi unik di mana para pria dan wanita akan bergiliran untuk dipertemukan. Uniknya, mereka yang bertemu ini boleh menunjukkan keakraban. Mulai dari saling memeluk, bahkan berciuman. Tapi, tentu tidak semudah itu karena ada banyak tantangan dan syaratnya. Sebelum melangkah lebih jauh soal prosesi Omed-Omedan, ada baiknya kita tahu sejarah tradisi ini terlebih dulu. Jadi, menurut sejarahnya acara ini diadakan atas perintah raja. Ceritanya dimulai ketika sang raja sakit dan tak ada satu tabib pun yang bisa menyembuhkannya. Kemudian di masa istirahatnya, sang raja mendengar suara gaduh di luar kamarnya. Raja pun begitu marah karena merasa istirahatnya diganggu.
Kemudian dengan terhuyung-huyung, Raja keluar dan melihat apa yang terjadi. Raja pun melihat pemandangan unik di mana para muda-mudi saling tarik menarik dengan seru. Ajaibnya, begitu melihat adegan itu raja tiba-tiba sembuh total. Kemudian saat itu pula raja memerintahkan agar acara tarik-menarik yang kemudian diistilahkan dengan Omed-Omedan itu dilakukan tiap tahunnya.

Tradisi Omed-Omedan tak langsung dilakukan begitu saja, melainkan punya berbagai macam persiapan. Pertama-tama dibentuk dulu para panitia yang akan menentukan jalannya acara, termasuk memilih muda-mudi yang akan dipasangkan. Setelah ini sudah siap, acara pun bisa digelar dan diawali dengan berdoa yang dilakukan di Pura terdekat. Selanjutnya adalah menggiring para muda-mudi atau disebut Teruna Teruni, untuk menuju ke tempat Omed-Omedan. Biasanya, tempatnya bakal dibasah-basahi dulu oleh air. Kemudian dilanjut dengan tari-tarian. Setelah semua selesai, Omed-Omedan yang ditunggu pun dimulai.

Omed-Omedan tidak dilakukan dengan cara sekaligus mempertemukan para pemuda dan pemudi, tapi satu per satu sesuai giliran. Cara bertemunya pun unik, yakni kedua-duanya akan dibopong untuk ketemu satu sama lain. Ketika dalam perjalanan untuk bertemu, semprotan air tak berhenti mengucuri keduanya.

Begitu bertemu, si pria biasanya akan melakukan upaya untuk bisa mencium si wanita. Dan si wanita tugasnya adalah untuk menghindar. Pergumulan ini tidak mudah, karena orang-orang bakal berusaha memisahkan, termasuk dengan siraman air yang dilakukan berulang-ulang.
Setelah selesai, maka si pasangan akan dijauhkan dan dikembalikan ke kelompok masing-masing. Kemudian dilanjut lagi dengan giliran pasangan berikutnya. Begitu terus sampai para kontestannya habis.


Selama ini Omed-Omedan selalu dikaitkan dengan ciuman. Padahal dalam tradisinya sendiri yang seperti itu tidak ada atau tak diharuskan. Menurut salah seorang tokoh adat setempat, Omed-Omedan cukup dilakukan dengan saling berangkulan saja. Tapi, dalam praktiknya, para peserta pun kadang berlebihan hingga sampai berciuman. Ya, hal ini cukup bisa dimaklumi. Pasalnya, para pelaku Omed-Omedan adalah muda-mudi yang belum menikah. Soal ciuman di Omed-Omedan, hal tersebut sepertinya tak akan terjadi untuk acara yang selanjutnya karena sudah ada aturan yang melarang soal itu. Omed-Omedan sendiri adalah acara tahunan dengan waktu pelaksanaannya setelah perayaan Nyepi (Ngembak Geni). Untuk lokasi, Omed-Omedan seringkali dilakukan di Desa Adat Sesetan yang ada di Denpasar Selatan.

Thursday, October 20, 2016

3 Pura Besar di Bali



Om Swastyastu, Kali ini saya akan berbagi koleksi hasil jalan-jalan religi saya ke-3 pura yang bisa dibilang cukup besar yang ada di daerah Kab.Klungkung dan Gianyar. semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan Comment kalian Guys... Suksma...


Pura Agung Kentel Gumi



Pura Agung Kentel Gumi yang terletak di desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat Bali sungsungan umat Hindu sebagai stana Ida Sang Hyang Raka Bhuwana. Dalam beberapa susastra seperti Usana Bali, Babad Bendesa Mas, Purana Pura Agung Kentel Gumi, pemberian nama Kentel Gumi bermakna simbolis sebagai pengeka jagat, sebagai tempat terpilih yang ditetapkan oleh Mpu Kuturan untuk ngentelang jagat Bai yang ketika itu terurai dan terpilih dalam beberapa wujud keyakinan Hindu. Di desa Tusan inilah Mpu Kuturan diyakini mengawali pembangunan parahyangan Pura Agung Kentel Gumi dengan memancangkan tiang batu persegi empat panjang(batu madeg) yang hingga kini dikenal dengan Ratu Pancer Jagat. Upaya tersebut dilanjutkan dengan membangun pelinggih Catur Muka sebagai lambing Brahma, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta alam semesta(ngereka bhuwana) yang bergelas Sang Hyang Reka Bhuwana.

Beberapa Pelinggih Yang Ada di Pura Kentel Gumi


Meru Tumpang Solas (11) : Sebagai Tempat Berstananya Sang Hyang Reka Bhuwana



Meru Tumpang Siya (9) : Sebagai sarana pengayatan ke Gunung Agung



Meru Tumpang Pitu(7) : Sebagai Simbol Manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa Bharuna



Meru Tumpang Lima (5) : Sebagai pengayatan ke Ulun Danu.



Meru Tumpang Tiga (3) : Lambang perwujudan atau pengayatan ke gunung Lebah.



Meru Tumpang kalih (2) : Sebagai Lambang Jaba Dwipa




Pelinggihan Hyang Ibu : Tempat memuja ibu pertiwi.




Pura Dasar Bhuana Gel-Gel



Pura Dasar Bhuana terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Dari Denpasar, berjarak sekitar 42 kilometer. Pura ini berdiri di atas lahan yang cukup luas. Berdiri megah dan tampak asri di pinggir jalan utama Gelgel-Jumpai. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatikta (Kerajaan Majapahit) pada tahun Caka 1189 atau tahun 1267 Masehi. Pura ini merupakan salah satu Dang Kahyangan Jagat di Bali. Pada masa Kerajaan Majapahit, Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa pandita (guru suci). Pura Dang Kahyangan dikelompokkan berdasarkan sejarah. Di mana, pura yang dikenal sebagai tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali, dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat. Keberadaan Pura Dang Kahyangan tidak bisa dilepaskan dari ajaran Rsi Rena dalam agama Hindu. Selain sebagai Dang Kahyangan, pura yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kota Semarapura, Klungkung itu juga merupakan pusat panyungsungan catur warga yang berasal dari soroh/ klan di antaranya soroh/ klan Satria Dalem, Pasek (Maha Gotra Sanak Sapta Rsi), soroh Pande (Mahasamaya Warga Pande) dan klan Brahmana Siwa. Semuanya merupakan pengabih Ida Batara di Pura Dasar Bhuana Gelgel. Pura yang dibangun di atas areal cukup luas itu, juga menjadi panyungsungan Subak Gde Suwecapura. Di antaranya Subak Pegatepan, Kacang Dawa, Toya Ehe dan Toya Cawu. Panyungsungan dilakukan saat Karya Pedudusan Agung lan Pawintenan yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Sebagaimana sejarahnya, Pura Dasar Bhuana erat kaitannya dengan Mpu Ghana yang hidup pada akhir abad IX Masehi. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatika sebagai bentuk penghormatan terhadap Mpu Ghana. Empu Ghana merupakan seorang brahmana dengan peran sangat besar terhadap perkembangan agama Hindu di Bali. Empu Ghana adalah orang suci yang berasal dari Jawa. Tiba di Bali pada masa pemerintahan (suami-istri) Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni yang berkuasa dan memerintah Bali pada tahun Caka 910 sampai tahun Saka 933 (tahun 988-1011 Masehi). Empu Ghana merupakan brahmana penganut paham Ghanapatya. Seumur hidup menjalankan ajaran Sukla Brahmacari yakni tidak menjalani masa Grahasta (tidak menikah). Kaitannya setelah berdirinya Kerajaan Suwecapura, pura ini dipakai sebagai merajan keluarga raja saat itu. Letak pura ini persis berada di timur laut Keraton Suwecapura. Pada zaman itu, Keraton Suwecapura berdiri di Banjar Jero Agung, Gelgel.



Beberapa Pelinggih Yang Ada di Pura Dasar Bhuana Gel-gel


Pelinggih tempat berstananya Ratu Pasek



Pelinggih gunung batur : sebagai pengayatan ke gunung batu



Pelinggih Ulun danu sebagai pengayatan ke danau beratan




Pelinggih Anglurah Agung



Pelinggih sebagai pengayatan ke pura Kentel gumi/ pesimpangan Batara ring Kentel Gumi




Pelinggihan Betara Dasar Dalem Gel-Gel




Pelinggihan antuk linggih betara Mas Pait




Linggih Betara Penyarikan Kunta Raos




Pelinggihan Ratu Pande









Bale Pesamuan Alit





Bale Pesamuan Madya




Bale Pesamuan Agung






Linggih Betara Sila Majemuh





Pelinggihan Sapta Petala : Pemujaan Hyang Widhi sebagai penguasa inti bumi



Sejarah Pura Mengening



Pura Mangening berada di Desa Saraseda, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pura Mangening berada di lingkungan yang hening dan berhawa sejuk. Waktu yang diperlukan apabila anda ingin mengunjungi Pura Mengening ini adalah sekitar 90 menit dengan jarak tempuh kira-kira 37 km dari Kota Denpasar Bali. Dimana Pura ini termasuk ke dalam salah satu cagar budaya yang diresmikan oleh Pemerintah Propinsi Bali berdasarkan UU No.05/1985. keberadaan Pura Mengening ini sudah ada sejak Raja Masula-Masuli memerintah di Pejeng. Raja Masula-Masuli ini sendiri mempunyai kisah tersendiri hingga sampai di Pejeng. Masula-Masuli sebelaumnya bernama I Sula dan I Suli. Keduanya ini adalah pasangan laki dan perempuan yang lahir dari troktokan nyuh gading di kawasan Besakih. I Sula dan I Suli kemudian diajak oleh I Sangkul Putih. Keberadaan I Sula dan I Suli ini membuat semua dewa-fewi turun kabeh untuk menyaksikan kedua anak tersebut. Bahkan, Dewi Bhyahpara dan Dewi Danu akhirnya meminta kepada Batara Jagatnatha agar Dukuh Sangkul Putih membawa I Sula dan I Suli ke Pejeng. Sampai di Pejeng oleh Sinuhun dibuatkan sebuah gelar Masula-Masuli. Nama ini diberikan berkaitan dengan kelahiran beliau yang lahir buncing (kembar). Pada masa pemerintahan Raja Masula-Masuli ini sendiri Pura Mengening ini hanya dilakukan beberapa perbaikan saja. Dengan menunjuk seorang arsitektur yang memang mengetahui konsep pura dan bangunan dengan konsep Hindu sebagaimana dianjurkan oleh Bhagawan Wiswa Karma. Raja Masula-Masuli menunjuk Empu Kuturan untuk melakukan perbaikan terhadap beberapa bangunan yang ada di Pura Mengening. Selain itu dalam pemerintahan Raja Masula-Masuli ditegaskan kembali nama yang berstana di pelinggih Prasada Agung ini dengan sebutan Ida Batara Hyang Maha Suci Nirmala.


Pelinggih Yang Ada di Pura Mengening


Pelinggih Ratu Pengurah Agung




Pelinggih Bhatara Gunung Kawi




Pelinggih Bhatara Siwa




Pelinggih Bhatara Tirta Empul




Pelinggih gedong sineb



Pelinggih Gedong Limas



Pelinggih Gedong Catu