Sunday, November 13, 2016

Permainan Tradisional “Meong-Meong”



Om Swastyastu, Kali ini saya akan berbagi koleksi salah satu permainan tradisional bali yang jarang kita dengar dan susah dijumpai yaitu "Meong-Meong". Semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan Comment kalian Guys... Suksma...

Meong-meongan adalah permainan tradisional Bali yang dimainkan oleh anak-anak dengan diiringi lagu meong-meong. Permainan ini menggambarkan usaha kucing yang dalam bahasa Bali disebut meng untuk menangkap tikus dalam bahasa Bali disebut bikul.
Permainan ini biasanya diikuti oleh delapan orang anak atau lebih, di mana seorang anak akan memerankan bikul dan seorang anak lagi akan berperan sebagai meng. Anak-anak lainnya akan membuat lingkaran untuk melindungi bikul. Bikul akan berada dalam lingkaran sementara meng akan berada di luar lingkaran selama anak-anak yang menjadi benteng pelindung bernyanyi. Meng baru diperbolehkan menangkap bikul kalau nyanyian sudah sampai pada kata-kata ‘juk-juk meng juk-juk meng juk-juk kul.’
Sarana dan prasarana yang digunakan anak-anak dalam memainkan permainan ini ialah lapangan luas yang ukurannya disesuaikan dengan banyak dan sedikitnya peserta. Lapangan biasanya berbentuk segi empat dan rata, dan akan dipilih tempat yang tidak mengandung banyak kerikil atau bebatuan tajam. Hal itu berkaitan dengan aturan main meong-meongan itu sendiri.
Aturan bermain dalam permainan tradisional ini ialah anak-anak akan menyiapkan seorang pemimpin. Setelah itu peserta membentuk barisan dalam satu syaf sambil menyanyikan lagu-lagu tertentu. Bagi Anda yang mendengar, lagu-lagu tersebut tentunya memeriahkan suasana permainan. Sesudah barisan berbentuk lingkaran dengan satu aba-aba dan lagu berhenti, anak-anak akan berhenti kemudian menghadap ke tengah di mana pemimpin yang sudah ditunjuk itu berada. Setelah itu pemimpin akan mengadakan undian siapa yang akan terpilih sebagai meong dan bikul. Meong dan bikul terpilih akan menempati posisinya masing-masing. Dengan diringi nyanyian, maka permainan ini dimulai. Peserta yang menjadi benteng akan saling bergandengan tangan dan melindungi bikul dari meng. Dari luar benteng meng harus mampu meraih bikul. Dengan teraihnya (tertangkap) bikul permainan pun selesai dan bisa diulangi lagi dari awal.
Permainan ini bebas dimainkan oleh anak-anak, rata-rata umurnya 6-13 tahun. Pesertanya pun terdiri atas laki-laki dan perempuan.
Anda bisa saja menyaksikan anak-anak memainkan ini saat Anda berkunjung ke desa-desa adat di Bali seperti Desa Penglipuran, Desa Tenganan, atau ke Desa Trunyan. Walaupun begitu, di sekolah-sekolah dasar Bali, anak-anak juga masih memainkan permainan ini saat istirahat. Mungkin Anda bisa melihatnya sebentar ketika melintasi sekolah dasar di setiap pelosok kota Denpasar.

Tari Bali Sang Hyang Dedari Terancam Punah


 

Om Swastyastu, Kali ini saya akan berbagi koleksi salah satu tari bali yang jarang kita dengar dan susah dijumpai yaitu Tari Sang Hyang Dedari. Semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan Comment kalian Guys... Suksma...


Ada satu tarian Bali yang berada di ambang kepunahan. Padahal akhir tahun lalu, Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) mengakui jika tarian tersebut merupakan warisan budaya dunia.
Tari Sang Hyang Dedari namanya. Bahkan, warga Desa Bona, Gianyar, Bali Selatan yang diyakini sebagai wilayah asal Sang Hyang Dedari, sudah tak lagi menarikan ritual sakral tersebut.
Keterangan itu disampaikan seorang tetua desa (pekak) yang ditemui di Sanggar Tari Paripurna, I Made Sijah.
"Ada dua tari di Desa Bona, Sang Hyang Dedari dan Sang Hyang Jaran. Dulu, keduanya masih ditarikan di pura, sekarang warga menarikan tari itu tetapi untuk tamu (turis)," ujar Sijah seperti dikutip dari Antara, Rabu (10/8/2016).
"Dulunya, beberapa kali ritual masih ditarikan saat odalan (hari raya) seperti Galungan dan Kuningan," dia menambahkan.
Saat ini Tari Sang Hyang Dedari kian langka, karena 'taksu' (ketulusan) menjalankan ritual dianggap telah hilang. "Bidadarinya tak mau lagi melinggih (memasuki tubuh para penari), mungkin karena taksunya sudah tak ada."
Situasi yang sama juga terjadi pada warga Denpasar, wilayah yang dulunya sempat memiliki ritual Tari Sang Hyang Dedari. Ni Ketut Arini, seorang maestro tari dari Desa Sumerta, Denpasar mengakui dirinya pernah menarikan Sang Hyang Dedari di Banjar atau desa adatnya.
"Dulu sebelum mementaskan Legong, para penari mesti menarikan Sang Hyang Dedari terlebih dahulu", kata Arini saat ditemui di sanggar tari miliknya, Warini di Denpasar.
"Saya teringat banyak warga masih menarikan Tari Sang Hyang sekitar tahun 1960-an, ada banjar di Sanur yang menjalankan ritual tersebut. Saat ini memang tari itu jarang, bahkan tampaknya tak ditarikan lagi di Bali," tutur perempuan yang kerap mengajar tari Bali di Jepang dan Amerika Serikat itu.
Setelah lama tak terdengar ada yang menarikan tarian ini lagi, ternyata sempat ditarikan lagi oleh warga desa di Nusa Ceningan, pulau yang dapat disambangi dengan kapal dari Pantai Sanur, Denpasar.
Informasi itu didapat dari Made Suar, ketua Yayasan Wisnu, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pelestarian budaya dan lingkungan. Tarian itu sengaja dihidupkan kembali di Nusa Ceningan untuk meredakan konflik antarwarga.
"Sekitar 2001 saya bersama Yayasan Wisnu mengajak warga desa menjalankan kembali ritual Tari Sang Hyang Dedari," tutur Suar.
Ia mengungkap, warga terlibat konflik akibat adanya investor yang ingin mengembangkan pariwisata tak berkelanjutan dan dinilai dapat mengancam mata pencaharian penduduk setempat yang sebagian besar adalah nelayan dan petani rumput laut.
Akhirnya, Sang Hyang Dedari, disebut warga setempat sebagai Sang Hyang Ukupan diaktifkan kembali guna meredakan ketegangan serta mengembalikan keseimbangan di masyarakat.
Harapan terakhir upaya pelestarian Sang Hyang Dedari yang terancam punah ditemukan di Dusun Banjar Geriana Kauh, Desa Duda Utara, Karangasem, Bali.
Warga setempat masih aktif menarikan ritual tersebut tiap masa menguning padi, yaitu sekitar awal Maret hingga April. Kabar baik itu disampaikan oleh prajuru (pengelola) desa, I Wayan Bhrata, 56 tahun, bersama bendera (pemimpin) setempat, I Nengah Likub (80).
"Warga desa adat (pakraman) Geriana Kauh masih menjalankan ritual Tari Sang Hyang Dedari sebagai ungkapan syukur untuk Dewi Sri serta untuk menolak bencana hama dan kekeringan", ujar Bhrata.
"Seluruh masyarakat kami, berjumlah sekitar 177 kepala keluarga (KK) adalah petani, sehingga sawah dan Sang Hyang Dedari merupakan hal yang tak dapat dipisahkan bagi para bapak dan ibu subak."
Meski demikian, ia mengaku tak mengetahui bahwa Sang Hyang Dedari di desa adatnya merupakan yang terakhir.
"Tentunya saya berharap tarian ini tidak punah, karena sebelumnya warga sempat tak menjalankan ritual beberapa puluh tahun yang lalu, dan kami telah merasakan akibatnya, sawah rusak, bahkan banyak warga meninggalkan desa," ucap Bhrata.

Tuesday, October 25, 2016

Omed-Omedan, Tradisi Unik Desa Sesetan



Om Swastyastu, Kali ini saya akan berbagi koleksi tradisi masyarakat Desa Sesetan, Denpasar Selatan yaitu Omed-Omedan. Untuk yang sudah tahu, pasti senyum-senyum sendiri.  Oke,,,Semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan Comment kalian Guys... Suksma...



Omed-Omedan ini adalah tradisi unik di mana para pria dan wanita akan bergiliran untuk dipertemukan. Uniknya, mereka yang bertemu ini boleh menunjukkan keakraban. Mulai dari saling memeluk, bahkan berciuman. Tapi, tentu tidak semudah itu karena ada banyak tantangan dan syaratnya. Sebelum melangkah lebih jauh soal prosesi Omed-Omedan, ada baiknya kita tahu sejarah tradisi ini terlebih dulu. Jadi, menurut sejarahnya acara ini diadakan atas perintah raja. Ceritanya dimulai ketika sang raja sakit dan tak ada satu tabib pun yang bisa menyembuhkannya. Kemudian di masa istirahatnya, sang raja mendengar suara gaduh di luar kamarnya. Raja pun begitu marah karena merasa istirahatnya diganggu.
Kemudian dengan terhuyung-huyung, Raja keluar dan melihat apa yang terjadi. Raja pun melihat pemandangan unik di mana para muda-mudi saling tarik menarik dengan seru. Ajaibnya, begitu melihat adegan itu raja tiba-tiba sembuh total. Kemudian saat itu pula raja memerintahkan agar acara tarik-menarik yang kemudian diistilahkan dengan Omed-Omedan itu dilakukan tiap tahunnya.

Tradisi Omed-Omedan tak langsung dilakukan begitu saja, melainkan punya berbagai macam persiapan. Pertama-tama dibentuk dulu para panitia yang akan menentukan jalannya acara, termasuk memilih muda-mudi yang akan dipasangkan. Setelah ini sudah siap, acara pun bisa digelar dan diawali dengan berdoa yang dilakukan di Pura terdekat. Selanjutnya adalah menggiring para muda-mudi atau disebut Teruna Teruni, untuk menuju ke tempat Omed-Omedan. Biasanya, tempatnya bakal dibasah-basahi dulu oleh air. Kemudian dilanjut dengan tari-tarian. Setelah semua selesai, Omed-Omedan yang ditunggu pun dimulai.

Omed-Omedan tidak dilakukan dengan cara sekaligus mempertemukan para pemuda dan pemudi, tapi satu per satu sesuai giliran. Cara bertemunya pun unik, yakni kedua-duanya akan dibopong untuk ketemu satu sama lain. Ketika dalam perjalanan untuk bertemu, semprotan air tak berhenti mengucuri keduanya.

Begitu bertemu, si pria biasanya akan melakukan upaya untuk bisa mencium si wanita. Dan si wanita tugasnya adalah untuk menghindar. Pergumulan ini tidak mudah, karena orang-orang bakal berusaha memisahkan, termasuk dengan siraman air yang dilakukan berulang-ulang.
Setelah selesai, maka si pasangan akan dijauhkan dan dikembalikan ke kelompok masing-masing. Kemudian dilanjut lagi dengan giliran pasangan berikutnya. Begitu terus sampai para kontestannya habis.


Selama ini Omed-Omedan selalu dikaitkan dengan ciuman. Padahal dalam tradisinya sendiri yang seperti itu tidak ada atau tak diharuskan. Menurut salah seorang tokoh adat setempat, Omed-Omedan cukup dilakukan dengan saling berangkulan saja. Tapi, dalam praktiknya, para peserta pun kadang berlebihan hingga sampai berciuman. Ya, hal ini cukup bisa dimaklumi. Pasalnya, para pelaku Omed-Omedan adalah muda-mudi yang belum menikah. Soal ciuman di Omed-Omedan, hal tersebut sepertinya tak akan terjadi untuk acara yang selanjutnya karena sudah ada aturan yang melarang soal itu. Omed-Omedan sendiri adalah acara tahunan dengan waktu pelaksanaannya setelah perayaan Nyepi (Ngembak Geni). Untuk lokasi, Omed-Omedan seringkali dilakukan di Desa Adat Sesetan yang ada di Denpasar Selatan.