Om Swastyastu, Kali ini saya akan berbagi
koleksi salah satu permainan tradisional bali yang jarang kita dengar dan susah dijumpai yaitu "Meong-Meong". Semoga
bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan Comment kalian Guys... Suksma...
Meong-meongan adalah permainan tradisional Bali
yang dimainkan oleh anak-anak dengan diiringi lagu meong-meong. Permainan ini
menggambarkan usaha kucing yang dalam bahasa Bali disebut meng untuk menangkap
tikus dalam bahasa Bali disebut bikul.
Permainan ini biasanya diikuti oleh delapan orang
anak atau lebih, di mana seorang anak akan memerankan bikul dan seorang anak
lagi akan berperan sebagai meng. Anak-anak lainnya akan membuat lingkaran untuk
melindungi bikul. Bikul akan berada dalam lingkaran sementara meng akan berada
di luar lingkaran selama anak-anak yang menjadi benteng pelindung bernyanyi.
Meng baru diperbolehkan menangkap bikul kalau nyanyian sudah sampai pada
kata-kata ‘juk-juk meng juk-juk meng juk-juk kul.’
Sarana dan prasarana yang digunakan anak-anak
dalam memainkan permainan ini ialah lapangan luas yang ukurannya disesuaikan
dengan banyak dan sedikitnya peserta. Lapangan biasanya berbentuk segi empat
dan rata, dan akan dipilih tempat yang tidak mengandung banyak kerikil atau
bebatuan tajam. Hal itu berkaitan dengan aturan main meong-meongan itu sendiri.
Aturan bermain dalam permainan tradisional ini
ialah anak-anak akan menyiapkan seorang pemimpin. Setelah itu peserta membentuk
barisan dalam satu syaf sambil menyanyikan lagu-lagu tertentu. Bagi Anda yang
mendengar, lagu-lagu tersebut tentunya memeriahkan suasana permainan. Sesudah
barisan berbentuk lingkaran dengan satu aba-aba dan lagu berhenti, anak-anak
akan berhenti kemudian menghadap ke tengah di mana pemimpin yang sudah ditunjuk
itu berada. Setelah itu pemimpin akan mengadakan undian siapa yang akan
terpilih sebagai meong dan bikul. Meong dan bikul terpilih akan menempati
posisinya masing-masing. Dengan diringi nyanyian, maka permainan ini dimulai. Peserta
yang menjadi benteng akan saling bergandengan tangan dan melindungi bikul dari
meng. Dari luar benteng meng harus mampu meraih bikul. Dengan teraihnya
(tertangkap) bikul permainan pun selesai dan bisa diulangi lagi dari awal.
Permainan ini bebas dimainkan oleh anak-anak,
rata-rata umurnya 6-13 tahun. Pesertanya pun terdiri atas laki-laki dan
perempuan.
Anda bisa saja menyaksikan anak-anak memainkan
ini saat Anda berkunjung ke desa-desa adat di Bali seperti Desa Penglipuran,
Desa Tenganan, atau ke Desa Trunyan. Walaupun begitu, di sekolah-sekolah dasar
Bali, anak-anak juga masih memainkan permainan ini saat istirahat. Mungkin Anda
bisa melihatnya sebentar ketika melintasi sekolah dasar di setiap pelosok kota
Denpasar.



